IV. Pawai Obor

“Dek, mau pegang obor gak?”

Aku menggeleng sembari tersenyum, “enggak, mas, bau.”

“Hahahaha,” dia tertawa, “yaiya, bau latung.” aku ikut tertawa sembari mengamatinya. Pemuda desa yang memakai kaos pendek bertuliskan nama karang taruna RW yang sudah kumal, celana panjang komprang, kemudian aku melihat bagian bawah, dia tidak menggunakan alas kaki. Aku menggelengkan kepala, padahal jalan disini belum sepenuhnya jalan aspal masih jalanan bebatuan.

“Dek,” panggilnya dengan logatnya yang kental.

Aku mendongak menatap matanya, “iya, mas.”

“Cekel bae kie, ora mambu latung,” ujarnya sembari memamerkan lengannya yang sawo matang padaku, dia tersenyum. (Pengang ini aja, tidak bau minyak tanah.)

Dan aku hanya tertawa.

III. Mereka

Pertama, dia udah enggak jadiin gue prioritas lagi.

Kedua, gue kira dia bakal kuliah di Universitas Gajah Mada, tetapi Allah berkehendak lain, dia dapet di Universitas Udayana.

Ketiga, dia terlalu baik sampe gue gak tega buat percaya sama dia, saking jahatnya gue.

Keempat, dia udah nganggep gue sebagai peran antagonis di kehidupan dia.

Kelima, dia yang tercantik, dia pergi ke Jakarta karena ikut bokap dia.

Keenam, yang terakhir adek gue, dia pergi ke Solo karena kerjaan dia.

So, gue harus pergi kemana?

II. Potensi Untuk Menyakiti

Hakikatnya setiap individu mempunyai potensi untuk menyakiti individu lain. Bukan karena dia merasa tersakiti hingga terlupa jika ia pun pernah menyakiti.

Hidup itu tentang hukum timbal balik, dimana perilakumu dapat berimbas buruk dalam hidup.

Jangan berlagak hanya kau lah yang tersakiti. Itu menyebalkan.

I. Saran?

Aku melenguh, “sebenernya hakikatnya saran itu buat orang menjadi lebih baik, bukan menjadi kepribadian baru.” aku tersenyum mengejek dan dia hanya diam mengamatiku.

“Kalo saran lo buat orang berubah, lo itu lagi kasih saran apa buat orang jadi apa yang lo mau?” kemudian dia tertawa terbahak. 

Ck. Dia kira aku melawak?

Dia Lagi

Sekali saja, Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Sekali saja. Aku ingin melihatnya dengan jelas, melihat dengan kedua mataku. Melihatnya bebas, melihatnya tersenyum, melihatnya bahagia meski tanpaku, dan melihatnya meraih citanya.

Hati kecilku ingin berteriak egois, memintanya menjadi salah satu puzzle masa depanku. Tapi sekali lagi, jika dia bukan takdirku. Aku akan bungkam.

Wanna Try

Ini aku lagi iseng buat semua gambar di bawah karena liburan semester panjang, aku liat tutorial di youtube gampang. Ehh, pas di coba, astagfirullah 😂

Color balance-nya pas gak? Perlu aku kasi exposure lagi?

What the? Jelek pasti ye, ini susah ganti si objek entah berapa kali.

Gimme review (づ ̄ ³ ̄)づ

Bisakah

Dahulu, aku selalu memiliki harapan jika aku bisa menjadi matahari dengan alasan dapat menyinari bintang meski sang bintang enggan. Aku ingin menjadi matahari agar bintang selalu terang dengan rasi-rasi cantik. 

Bintang yang mampu memberi secercah harapan bagi kegelapan, melupakan eksistensi matahari. Aku tak mengapa menjadi matahari, sungguh. Sampai sekarang pun aku masih berharap, sama seperti dahulu.

Jadi, bisakah kamu? Atau lebih tepatnya bisakah saya?

Nothing

Jika saja aku adalah sesuatu yang dekat dengannya, aku tidak akan kepalang bingung mengabarkan rindu. Aku sudah lelah menyempatkan waktu untuk mengetahui segala tentangmu. Apa sekali pun namaku tidak pernah terlintas tanpa sadar dalam benakmu, aku merasa tidak adil disini. Karena segalanya hanya aku yang merasa, hanya aku yang merindu, dan hanya aku yang dengan bodohnya menyelipkan namamu dalam doa tanpa harap adanya balasan.

Jadi, bisa kamu melihatnya? Siapa yang bodoh dan siapa yang sedang dibodohi?

Metamorfosa

img_20160122_091303

“Baiklah, kita akan terbang dengan sayap kita masing-masing. Aku dan kamu.”

Photos by ZATANG1405 (I got it from twitter)

-Happy Reading-

Mereka mengatakan Taeyeon adalah wanita yang keras kepala dan egois. Mulanya, Taeyeon memang tak menggubris mereka sebelum teman lama yang telah Taeyeon percaya mengatakannya dengan gamblang.

”Aku ingin merintih karirku, Taeyeon-ah. Kumohon mengertilah,” Jessica menghela nafas sekian kalinya. Kepalanya berkedut, sudah beberapa kali ia mencoba meyakinkan kawannya ini namun tak berbuah manis. Ia memijat pangkal hidungnya yang sudah sakit sejak tadi. Lanjutkan membaca “Metamorfosa”

Kumohon Berhenti

Fiksi || General

“Semoga tidak kamu lagi.

Aku tak pernah mengatakan dengan gamblang jika aku menyesal telah jatuh padamu. Aku tidak pernah menyalahkan kala bibirku tersenyum mendengar silabel namamu. Aku juga tidak menyangkal ketika hati dan pikiranku memikirkanmu

Bahkan bibirku masih menyunggingkan sebuah senyuman kala melihatmu bahagia dengan masa depanmu. Air mataku juga tidak bisa berbohong, ia jatuh perlahan satu demi satu seperti tetesan hujan di langit terang. Aku tidak berharap ini adalah sebuah pukulan yang membuatku sadar akan fakta.

Sapuan angin menerpa wajahku, menerbangkan kerudungku karena sapuannya, sapuan yang seperti tengah membantuku untuk sadar akan eksistensi dirimu.

Air mataku tidak bisa berhenti. Aku meminta ampun kepada Allah, jika aku pernah mengharapkan kamu ada disini sebagai pendampingku. Aku juga ingin memberikanmu sebuah kebahagian.

Ingin sekali darahku mengalir dengan tak karuan ketika telapak tanganmu yang hangat menyentuhku. Ingin sekali aku mendengar detak jantungmu yang tidak memiliki ritme ketika aku tengah tersenyum manis kepadamu.

Aku mengerti jika Allah telah membuat garis berpola untuk kehidupan cintaku. Aku juga tidak berhak menghakimi alur kehidupanku. Satu doaku yang aku berharap Allah akan mengabulkannya, satu saja, aku ingin dia paham akan yang aku rasakan sekarang.

Aku takut ketika aku tak lagi mencintaimu, tak lagi mengharapkan kehadiranmu, kau malah datang menawarkan sebuah masa depan kepadaku. Wanita terlalu lembut dan riskan terlebih kamu adalah lelaki pertama yang aku harapkan di masa mendatang. Siapapun beri aku pukulan agar aku sadar akan fakta.

Namun, meski kau tidak -belum- mencintaiku untuk sekarang. Aku bangga menjadi aku, karena aku mencintaimu apa adanya walau kekurangan dirimu tak luput dari perhatianku.

Kumohon jika kamu bukan masa depanku. Kumohon berhenti. Semoga tidak kamu lagi. Ya, semoga tidak kamu lagi.